Feeds:
Posts
Comments

Someone …


Dear …

I write this because I could not say it directly to you… remember when you asked me to read your blog and fiding my name there ?
I have read it and I cry …it’s so beautiful especially your pray … I want to thank you for all the feelings, the love, the words and everything that you’ve dedicated in writing that article for me …

I am not as good as you depicted, nor that kind, I have flaws… but I am so relieved and thanking God, that in this planet earth, someone is falling for me soo deep …
Did I ever mentioned to you that …some years ago I have written you a letter, about how I adores you, about how is my feelings for you…but I could never gave those letter to you, am so afraid and ashamed, never got the courage to give it to you, to have you read it.
See? I am also a coward. We could never change the history, but I just want to tell you that the feelings will remained here. You will always have a place in my heart that no one could ever replaced.
Thank you so much…
I love you too …

~p~
15jul09

besok hari H nya … nasib masyarakat, nasib rakyat, nasib bangsa akan ditentukan dari centangan jutaan tangan di atas kertas selebar koran, memilih wakil yang dia inginkan untuk nanti mewakilinya duduk di ruangan ber AC, mendapatkan gaji dan tunjangan jutaan, proyek sana sini, kehormatan 5 tahun, mobil dinas, tunjangan pakaian, makan minum jutaan rupiah.

saya berharap, tidak ada keributan kalau ada caleg yang merasa ada kecurangan sehingga dia tidak terpilih.

saya berharap, ruangan ruangan VIP di RS jiwa yang sudah disiapkan dengan semangat oleh pemerintah yang sudah cepat tanggap akan terus kosong tidak berisi.

saya berharap, perbedaan pilihan tidak akan membuat permusuhan muncul.

saya harap, apa yang saya pilih besok, akan berarti dan tidak sia – sia …

saya berharap, bangsa ini belajar dari pengalaman, mengasihi kaum yang terpinggirkan, menghormati generasi tua dan tidak terlalu percaya janji yang diobral lewat iklan mahal.

saya berharap, sekecil apapun, nasib bangsa kedepan bisa berubah lebih baik…

Amin.
ontario-general-election

Kota Caleg

Beberapa minggu lalu, aku ke Tomohon. Trip biasa, jalan jalan tak tentu arah dengan siblings-ku. Dikenal dengan kota Bunga, Tomohon sudah dua kali menyelenggarakan iven Tournament of Flowers yang, lumayan dianggap sukses. Pasar Tomohon juga sudah terkenal kemana – mana dengan berbagai jualannya yang tak biasa, kucing, anjing, kelelawar, ular hingga monyet sudah jadi pemandangan lumrah disitu. Di Tomohon juga ada Kebun Raya yang walaupun belum dibuka secara resmi sampai sekarang, sudah jadi lokasi tujuan retreat dan berbagai acara. Taman Korompis yang indah dan penuh bunga sudah sering jadi lokasi pemotretan pre-wed.

Tujuan kita sebetulnya untuk ke puncak Mahawu. My bro & sis, they mocked me for never get to any top of any mountain. Jadi, disanalah kami hendak menuju Mahawu, mewujudkan mimpi-ku untuk menaklukkan puncak Mahawu. Bukan mimpi sebetulnya, karena puncak Mahawu ternyata bisa dicapai dengan mobil, dan sesudah mendaki sekitar 10 menit, voila, sampailah kita di puncaknya dengan pemandangan lereng landai dan kawah seperti tempurung terbuka, mengepulkan asap berbau belerang. Mendaki ? tidak tepat begitu, karena jalannya memang menanjak, tapi terimakasih atas kunjungan Mari Elka Pangestu beberapa waktu lalu, jalan inipun sudah dipahat seperti tangga dan ada susuran pegangan dari kayu di sepanjang jalan ke puncak. Hebat….tidak cuma mie, bubur dan gelar sarjana saja yang instan, naik gunung pun bisa instan. Bagi adik-ku yang sudah mendaki gunung2 di Jawa dan kakak-ku yang sudah pernah tiba di puncak Lokon, ini seperti main-main. Tapi buat aku ? mendaki 10 menit ini sudah bikin napas tersengal 10 menit.

Anyway, yang cukup membekas di ingatan adalah, sepanjang perjalanan ke Tomohon, kiri kanan penuh dengan Baliho dan poster Caleg berwarna – warni dengan motto bervariasi dan gaya yang macam – macam pula. Bahkan, sepanjang jalan utama Tomohon, yang di kiri kanannya penuh penjual bunga, pun tidak luput dipancangi dan disesaki beragam poster beragam ukuran dari puluhan (atau ratusan?) caleg. Hitung saja, jika satu caleg memasang minimal 5 papan poster (ya, mana mungkin 1 saja ? bisa di-cap kurang modal dong ! ), ada berapa poster di seluruh kota bunga nan cantik ini ? Itupun masih bersaing dengan papan reklame, poster pertunjukan dan pengumuman macam – macam.

Aku bahkan melihat 3 papan poster adik kelas kuliah ku, hebat ! Rasanya Tomohon bisa dijuluki kota Caleg saja daripada kota bunga :) Tapi, tentu tidak adil buat kota kecil cantik ini mendapat julukan sedemikian. Indahnya tata kota bisa menarik turis yang datang, tapi apakah kita akan bisa menarik turis datang dengan tinju terkepal menyatakan tekad, senyum airbrushed dan seruan, Pilihlah saya! ?

Bagiku, membingungkan melihat fenomena caleg telah merasuk ke setiap sendi kehidupan. Tetangga depan rumah-ku, a very dedicated yet very modest teacher, tiba – tiba saja memproklamirkan diri sebagai caleg partai ‘Anu’, membagikan stiker, kartu,  kaos dan fasih berbicara mengenai penjegalan dan persaingan politik di daerah pemilihannya. Tayangan di TV, poster di jalan, iklan di radio dan koran, menyadarkan kita, ribuan orang mendamba dan mendamba luarbiasa untuk duduk di kursi itu.

Di Sulut, kursi yang tersedia ada sekitar 300-an, sedangkan Caleg yang terdaftar ada sekitar 6000-an, you do the math! Berapa orang yang akan kecewa karena tidak terpilih ? Berapa keluarga yang akan jatuh ekonomi-nya ketika pencari nafkah-nya harus menutupi hutang – hutang yang terlanjur dipinjam pada masa kampanye ? This is insane!

Ada berapa papan poster Caleg di jalan – jalan kota-mu ?

~P

 

icarus

mentari adalah batas abadi
seseorang mengukur kemampuan diri
seperti icarus yang terbakar ketika melewati kulminasi
kita akan memilih
terbakar
atau kembali …
137331615_a2900605f2

President of USA

“It’s been a long time coming, but tonight, because of what we did on this date in this election at this defining moment, change has come to America,” (Obama in his victory rally - Chicago’s Grant Park)

Obama & his family at Grant Park, 4th nov 2008

Obama & his family at Grant Park, 4th nov 2008Obama, Biden & wives

May the best win ! 231133de944bd67fa89e420f7ed7acf6

The Rich Say Thanks

[Sebetulnya] aku suka bangun pagi. Aku senang menikmati pagi dengan tenang, membaca sambil sarapan dan kadang beli koran, kadang main dengan anak tetangga atau minum jamu, kalo keburu mencegat mbok nya yang selalu lewat pagi2 sekali. Tapi belakangan ini pagi-ku terganggu sekali. Karena, begitu jarum jam menunjukkan pukul 06.30, menggema lah full sound-system dari belakang rumah, menyiarkan lagu-lagu dangdutan ke seantero jagat raya lingkungan kami.  

Sebetulnya ini biasa saja, orang muter lagu pagi2, tapi alamak, kenapa harus pagi-pagi sekali sih ? dan lagunya, kenapa dangdut yang begini ? sebetulnya aku juga suka dangdut, tapi, kenapa harus versi yang INI ? Syair lagunya nih ya, betul – betul “….” (duh, gak menemukan istilah yang pas!), misalnya di salah satu lagu, menceritakan tentang janda yang kedinginan tengah malam, dan pahlawan kita ini, sang pedangdut harus membawa pisang masuk kamar sang janda, mematikan lampu dan pisang-nya pun disergap. Ouch, itu anak – anak kecil apa nggak terkontaminasi isi otaknya dengan lirik lagu begini ? siapa sih penciptanya ??? kemudian ada lagu yang mengisahkan tokoh utama kita yang menjual anak nya dan kemudian menyesali, dan di lagu itu ada ‘kali 5 menit si anak yang udah dijual menangis menggerung2, benar2 bikin tuli. Di lagu goyang geboy, penyanyinya mengajak mang dadang, kang Oon, kang Asep dan akang -akang, dan seluruh mamang- mamang untuk berjoget muter2 sampe keluar keringat. Benar-benar syair yang tidak membangun, gw jadi rindu bang Thoyib, sumpah!

Sebetulnya ga ada masalah dengan dangdut, dan ga ada masalah dengan iramanya, tapi kenapa syairnya harus yang seperti diatas ya ? aku senang Ira Swara, Dewi Perssik bahkan Ellya Khadam, tapi syair2 diatas bener2 bikin rusak kuping dan otak. Buat para pencipta lagu dangdut, tolong dong ciptakan lagu yang memberi semangat dan membuat orang ingin merubah diri dan mencari kehidupan lebih baik, bukannya malah menangis termehek2 gara2 suami selingkuh atau utang belum terbayar atau istri enggan pulang.

Lagu dangdut, entah kenapa (ada yang tau nggak, kenapa?) seakan dekat dengan komunitas pinggiran, kaum miskin kota atau desa yang untuk makan pun masih harus berjuang, mereka yang kemudian banyak terjebak di judi, pelacuran atau utang. Gak, gw gak menghakimi atau menilai [siapa pula gw ini?] tapi gw hanya merasa ada sesuatu yang harus dirubah dari orang-orang yang ‘miskin’ atau ‘merasa’ miskin secara ekonomi dan struktural. Dan lagu – lagu berirama cengeng dan lirik ’semiporno’ atau sadis seperti itu tidak membantu.

Kaum kaya akan mengucapkan terimakasih pada kaum miskin yang tetap terlena dengan kemiskinannya dan menghibur diri dengan lagu-lagu dangdut yang memanjakan nasib yang ‘harus’ ia terima, walaupun sebetulnya bisa dia ubah. Aku baru membaca tulisan yang berjudul “The Rich say Thanks’ di satu milis, yang intinya menerangkan betapa kaum kaya akan semakin kaya ketika kaum ‘miskin’ tidak berusaha keluar dari jeratan kemiskinan dan membuat si kaya bertengger permanen di kelasnya yang nyaman. Jika kita menerima begitu saja nasib kita, memanjakan diri dengan lagu2 pembenaran atas kemiskinan dan tidak berusaha berjuang, maka tulisan itu pun benar adanya.

the poor will ask God, “WHY”

and the rich will replied,”WHY NOT?”

‘P’

Gelombang memukul-mukul pantai
Aku melihat alam mengasyikkan
serta mendengar suara menggema
Cahaya surya berkilau-kilauan
Aku mencari kulit-kulit kerang,
gigi ikan, siput, kerang besar
Duduk di pinggir sesudah lelah,
lalu membuat benteng dari pasir
Air laut bergelombang biru
Meskipun penat tetapi senang
Langit meletuskan warnawarni
mentari terbenam amat terang
Hari berakhir sangat riang

(sumar sastrowardoyo)

Syair – atau puisi? atau sajak? – diatas dari pak sumar -salah satu teman baru ku yang baik sekali dari pulau panjang, NY …. saya minta ijin beliau untuk posting ini di blog karena syair ini mengingatkan saya akan masa kecil yang riang.

Saya menghabiskan masa kecil di sangir, pulau kecil di ujung sulawesi utara. di tahun 80-an, pulau ini masih sangat pristine dan sejuk, dimana sungai dan kali mengalir jernih, dan kau temukan kerang – kerang dan kepiting di pantainya. anak- anak berlari riang dibawah matahari dan bermain lompat tali sampai capek. pulang sekolah saya akan memanjat pohon ceri dan memakan buah ceri merah dan hijau sampai sakit perut atau sampai terdengar panggilan ibu. tapi, paling sering saya akan ke pantai di pelabuhan, jalan lewat rawa – rawa untuk melihat ombak dan kapal ikan. mengumpulkan kerang – kerang yang kemudian dilepaskan lagi. pulangnya, kaki saya akan penuh biang gatal dan dimarahi ibu. tapi saya tak pernah kapok, dan selalu kembali dan kembali kesana lagi. masa kecil yang indah ternyata harta berharga yang tak bisa terganti atau terlupa.

P

ketika

ketika waktu berlalu

aku akan merenungi … pada detik yang tak kan kembali, pada tawa yang takkan pernah kudengar lagi, pada kerut dahi yang tak akan kulihat lagi …

ketika waktu berlalu

ia membawa segalanya, perasaan jatuh cinta, getar – getar kesedihan, gelenyar bahagia di setiap urat nadi yang pernah terlalui …

waktu mengambil dan menyembuhkan … tak kan pernah ada satu detik yang sama, tak kan pernah ada orang yang sama, kehidupan bergerak maju, maukah kau juga begitu ?

P

contangius

Sahabat …

Ada 3 kelakuan manusia yang kutahu sangat menular di dunia ini … menangis, tertawa dan menguap. Kamu tidak mengantuk dan tidak sedang merasa lucu. Dirimu sedih … dan airmata itu menular. Aku tidak keberatan kau tulari … aku tidak bisa berjanji membuatmu kuat atau membuat tangismu tidak menular lagi….barangkali aku tidak akan kuat dan tidak akan bisa membuat airmatamu berhenti… tapi aku tidak akan kemana – mana, aku akan ada disini untuk kau tulari kesedihanmu …

on the other tought, bagaimana kalau kita cari ’second opinion’ dari dokter yang lain ?

P

Older Posts »