Beberapa minggu lalu, aku ke Tomohon. Trip biasa, jalan jalan tak tentu arah dengan siblings-ku. Dikenal dengan kota Bunga, Tomohon sudah dua kali menyelenggarakan iven Tournament of Flowers yang, lumayan dianggap sukses. Pasar Tomohon juga sudah terkenal kemana – mana dengan berbagai jualannya yang tak biasa, kucing, anjing, kelelawar, ular hingga monyet sudah jadi pemandangan lumrah disitu. Di Tomohon juga ada Kebun Raya yang walaupun belum dibuka secara resmi sampai sekarang, sudah jadi lokasi tujuan retreat dan berbagai acara. Taman Korompis yang indah dan penuh bunga sudah sering jadi lokasi pemotretan pre-wed.
Tujuan kita sebetulnya untuk ke puncak Mahawu. My bro & sis, they mocked me for never get to any top of any mountain. Jadi, disanalah kami hendak menuju Mahawu, mewujudkan mimpi-ku untuk menaklukkan puncak Mahawu. Bukan mimpi sebetulnya, karena puncak Mahawu ternyata bisa dicapai dengan mobil, dan sesudah mendaki sekitar 10 menit, voila, sampailah kita di puncaknya dengan pemandangan lereng landai dan kawah seperti tempurung terbuka, mengepulkan asap berbau belerang. Mendaki ? tidak tepat begitu, karena jalannya memang menanjak, tapi terimakasih atas kunjungan Mari Elka Pangestu beberapa waktu lalu, jalan inipun sudah dipahat seperti tangga dan ada susuran pegangan dari kayu di sepanjang jalan ke puncak. Hebat….tidak cuma mie, bubur dan gelar sarjana saja yang instan, naik gunung pun bisa instan. Bagi adik-ku yang sudah mendaki gunung2 di Jawa dan kakak-ku yang sudah pernah tiba di puncak Lokon, ini seperti main-main. Tapi buat aku ? mendaki 10 menit ini sudah bikin napas tersengal 10 menit.
Anyway, yang cukup membekas di ingatan adalah, sepanjang perjalanan ke Tomohon, kiri kanan penuh dengan Baliho dan poster Caleg berwarna – warni dengan motto bervariasi dan gaya yang macam – macam pula. Bahkan, sepanjang jalan utama Tomohon, yang di kiri kanannya penuh penjual bunga, pun tidak luput dipancangi dan disesaki beragam poster beragam ukuran dari puluhan (atau ratusan?) caleg. Hitung saja, jika satu caleg memasang minimal 5 papan poster (ya, mana mungkin 1 saja ? bisa di-cap kurang modal dong ! ), ada berapa poster di seluruh kota bunga nan cantik ini ? Itupun masih bersaing dengan papan reklame, poster pertunjukan dan pengumuman macam – macam.
Aku bahkan melihat 3 papan poster adik kelas kuliah ku, hebat ! Rasanya Tomohon bisa dijuluki kota Caleg saja daripada kota bunga
Tapi, tentu tidak adil buat kota kecil cantik ini mendapat julukan sedemikian. Indahnya tata kota bisa menarik turis yang datang, tapi apakah kita akan bisa menarik turis datang dengan tinju terkepal menyatakan tekad, senyum airbrushed dan seruan, Pilihlah saya! ?
Bagiku, membingungkan melihat fenomena caleg telah merasuk ke setiap sendi kehidupan. Tetangga depan rumah-ku, a very dedicated yet very modest teacher, tiba – tiba saja memproklamirkan diri sebagai caleg partai ‘Anu’, membagikan stiker, kartu, kaos dan fasih berbicara mengenai penjegalan dan persaingan politik di daerah pemilihannya. Tayangan di TV, poster di jalan, iklan di radio dan koran, menyadarkan kita, ribuan orang mendamba dan mendamba luarbiasa untuk duduk di kursi itu.
Di Sulut, kursi yang tersedia ada sekitar 300-an, sedangkan Caleg yang terdaftar ada sekitar 6000-an, you do the math! Berapa orang yang akan kecewa karena tidak terpilih ? Berapa keluarga yang akan jatuh ekonomi-nya ketika pencari nafkah-nya harus menutupi hutang – hutang yang terlanjur dipinjam pada masa kampanye ? This is insane!
Ada berapa papan poster Caleg di jalan – jalan kota-mu ?
~P~