Feeds:
Posts
Comments

Seperti kerang
Yang melindungi tubuh lunaknya
Aku melindungi hatiku
Bagian paling rapuh dari diriku
Dibalik cangkang keras

Tahukah kau, sesuatu tidak selalu seperti tampaknya

Seperti bawang yang menyembunyikan ketiadaan
Ketika mengupas lapisan itu satu demi satu
Kau akan menangis
Dan tersakiti
Tapi percayalah
Apa yang membuatmu sakit tidak membuatku bahagia
Satu satu
sesudahnya hanya akan ada inti jiwaku
Yang akan berbicara padamu
Tentang segalanya
tanpa ada selubung apapun lagi
Tanpa kepura pura, rasa sungkan

Tapi misteri itu pun juga akan hilang
Tak akan lagi berdebar – debar
Tak akan lagi kau menatapku dan mengira – ngira
Tak ada lagi menebak, menduga, berharap
Semuanya akan terang dan terlihat
Tiada lagi ruang untuk sembunyi
Apa asyiknya itu ?

Sekarang, kau pilih mana?
Pegang atau buang pisau itu….
Kau yang punya jawabnya
Aku disini
Hanya sejauh rengkuhan…

namun ingat kekasihku…
sesuatu tidak selalu seperti tampaknya

Jika ada yang bertanya pada kita, kapan dan dimana tempat makan paling enak ? Maka dengan sigap cepat dan tepat kita akan segera menjawabnya, tentusaja sambil membayangkan kembali makanan yang pernah dirasakan, suasana restoran atau rumah, merasakan kembali sensasi enaknya makanan yang pernah singgah di mulut, mungkin juga dengan sedikit ‘drooling’, hehehe….

Tapi jika ada yang bertanya, dimanakah tempat ’pup’ paling enak ? hmm, kita akan mengeryit dulu, sebelum menjawab,”bukan urusan lo kalee!” … agak mengherankan atau tidak, urusan ’ke belakang’ kerap tidak kita persoalkan, bahkan sebisa mungkin disembunyikan. Padahal, coba diingat – ingat dan sadari, urusan ini sama halnya dengan tidur dan makan, jika tidak dilakukan secara lancar dan teratur, matilah manusia. Tapi wajar jika kita tidak hendak mengingatnya, bukankah manusia memang sukanya mengingat hal – hal yang baik dan menyenangkan saja? Itu mekanisme otak kita bukan ? mekanisme untuk melupakan hal – hal buruk -dan percayaaa, ’pup’ atau orang sedang ’pup’, bukan kenangan yang ingin disimpan terlalu lama di sel – sel kelabu otak kita- akan menjaga kita tetap waras. (sel – sel kelabu, meminjam istilah hercule poirot).

Anyway, sebetulnya jika ada yang bertanya begitu padaku, maka dengan senang hati atau ‘senang perut’ aku akan mengingat dan menjawabnya ^_^
Selama hidup, entah sudah berapa ton kita melakukan pembuangan hajat yang satu itu (ih nulisnya pun aku agak2 ’merinding’). Waktu yang dihabiskan untuk buang hajat yang ini pun harus khusus disediakan, kadang lebih lama dari waktu makan (merindingnya lanjuttt)…
Ada satu kebiasaanku yaitu ’suka’ berlama – lama di dalam wc. Entah mengapa urusan ke belakang ini selalu agak sulit kulakukan (yakin, sekarang yang sedang baca yang ’merinding’). Supaya merindingnya gak lama – lama, tulisannya akan aku persingkat saja deh. Sekian ribu kali ke’belakang’ dalam hidup ini, ada beberapa momen yang aku ingat.

Si putri kecil dan babi – babinya
Dulu, waktu masih kecil di sangir talaud, saat aku masih tk, ada kebiasaan kita yang ’aneh’ untuk urusan kebelakang. Di belakang rumahku ada pagar bambu keliling yang luas. Di belakang pagar bambu itu ada tanah kosong luas yang tidak pernah kujelajahi, bagiku itu dunia lain yang entah apa. Selain karena aku termasuk anak kecil penakut, di situ banyak babi berkeliaran yang mencari makan. Aku ngeri dengan suara babi yang memang nggak enak didengar itu. Nah, ditengah pagar bambu tinggi itu, ada lubang kecil yang cukup untuk diduduki atau jadi tongkrongan. Lubang kecil itulah yang jadi tempat nongkrong aku dan kakak perempuanku kalau lagi ’itu’. Di rumah memang ada toilet yang dipakai orang – orang dewasa, tapi entah kenapa, kami berdua lebih suka nongkrong disitu, di lubang itu. Jangan tanya kenapa sekarang, pikiran anak kecil ’jorok’ waktu itu beda sama diriku yang manis sekarang ini ^_^
Bayangkan saja, nongkrong duduk lama – lama diatas pagar bambu itu dan dibawahnya belasan ekor babi menguik – nguik kesenangan menunggu ’ itu ’ jatuh. Gawd, so not kewl! … Eeeeewww……
Tapi, sebagai anak kecil keren (iya dong!) dengan imajinasi luarbiasa (so pasti!, gak keberatan kan lo? hehe ), aku selalu membayangkan akulah sang putri raja yang sedang membagikan emas buat rakyatnya, ya para babi itu. Duh kasihan banget sih nasib babi – babi hitam itu. Pemandangan itu, masih terbayang jelas sampai sekarang sesudah aku dewasa. Sekarang, lo masih juga mau nanya kenapa aku gak pernah bisa makan daging babi ???

Bokong yang hangat
Jangan mikir ngeres dulu ya. Sesudah ‘berkenalan’ dengan wc duduk, aku ‘jatuhcinta’. (eewww!) Sebagai anggota POYSBDWC (perkumpulan orang yang suka berlama-lama di wc), kalo jongkok kelamaan, kakiku suka keram dan gangguan – gangguan lainnya. Dengan wc duduk, voila, kita bisa sambil ngapain aja di wc – tentusaja kecuali makan (eeewwww!). Baca koran ? ok! Ngisi tts ? ok juga! Fesbukan? Kenapa nggak !? (jangan pura2 ah, lo juga kan? ^_^ main yoyo ? iseng amat! Main kasti ? lebay!
Ok. Tapi, wc duduk membuat hidup lebih menyenangkan, siapa sih penemunya ? Kaki keram, pinggang sakit, lutut lemah gak ada lagi! (ini memang kelamaan jongkok atau udah tanda – tanda usia ya?! ) Gak usah aku terangin deh, lo bayangin aja dalam tempo setengah jam, aku bisa ngapain (gila lo! Kayak kurang kerjaan aja gue ngebayangin lo lagi ’itu’! Nah, nyolot kan? Hahahaha!)
Tapi, pengalaman terbaik dengan wc duduk bukan itu, bukan sambil menghayal dotcom. Bulan kemarin aku dapat kesempatan menginap di hotel bintang lima diamond di Jakarta, di kamar deluxe, karena kamar superiornya lagi penuh. Ternyata kamar itu baru saja direhab dan yang paling membahagiakan di kamar itu adalah automated wc-nya. Dengan automated sensor, begitu kita berdiri dekat wc, tutupnya akan terbuka. Begitu duduk, otomatis dudukannya akan menghangat, sungguh menyenangkan kalau pagi hari baru bangun dengan ac yang dingin semalaman. Bebersih ? no problem, mau depan atau belakang? Soft atau pulsating ? tinggal tekan tombol, air keluar dengan aliran keras, lembut atau berputar atau denagan tekanan, suka – suka kita. Sudah selesai? Hidupkan anginnya untuk mengeringkan bagian – bagian yang perlu dikeringkan, ehm.
Dudukannya yang lebar juga menjamin kita bisa duduk nyaman dengan hangat selama yang kita mau. Acara ’kebelakang’ di pagi hari jadi menyenangkan, dengan bokong yang hangat !

Oma tersayang, Sungai dan Hujan
Tapi, dari semua pengalaman kebelakang dimana saja, tidak akan mengalahkan pengalamanku ’itu’ di kali. Bayangkan saja, jongkok di kali dengan air bersih yang mengalir deras, serangga air melompat – lompat disekitarmu, rerimbunan hijau di kiri kanan, udara segar, awan putih berarak di atas, di langit luas biru. Amboii!
Sumpah, jauh lebih menyenangkan dari toilet modern manapun di dunia ini. Kecuali mungkin kalau sungainya bisa ngomong, pasti akan keberatan kita mencemari airnya yang bening. Ketika masih kecil di kota kecil yang bersih dan rapi, tahuna, aku sering ikut orang – orang mencuci baju ke sungai untuk berenang dan kemudian ’itu’ disungai. Namun seiring aku besar, tentu sudah tidak diperbolehkan lagi, kecuali kalo mau kesambet, disambet jin atau orang, ihhh amit – amit.
Ketika aku remaja, Opa dan Oma ku pindah dari daerah perkotaan ke kebun yang agak jauh. Mereka pindah karena waktu itu Opa divonis sakit jantung sama dokter, dan mungkin obsesi Opa adalah meninggalkan kota untuk menyepi dan kembali ke alam. Entahlah. Yang jelas, kami anak cucu senang –senang saja, acara reuni keluarga dan kumpul Lebaran pun berubah tempat ke kebun Opa yang luas, sejuk, dekat sungai, namun masih terhitung dekat dengan jalan raya. Di kebunnya ini Opa menanam pohon coklat, kelapa, berbagai jenis pisang, kacang hijau, durian, sayur – sayuran, buah – buahan dan banyak lagi. Opa-ku tercinta juga memelihara ayam, sapi, kambing dan punya kolam ikan. Hmm, kenapa jadi seperti tugas mengarang esde dulu ya ? (Berlibur ke rumah Kakek, jrengggg!!!)
Anyways, berhubung masih baru, di kebun Opa tidak ada fasilitas toilet. Kamar mandi tentusaja ada, tapi wc tidak ada. Ada juga, tapi masih darurat, dan aku lebih baik disuruh gali tanah daripada pengalaman putri dan babi terulang lagi…Opa-ku tidak pelihara babi sih, ini ’penekanan yang lebay’ aja. Di dekat kebun Opa ada sungai besar yang mengalir deras dan jernih. Kesitulah kami beramai – ramai berangkat dengan ceria dan gembira membawa satu batang sabun untuk menunaikan hajat mulia. Harus lebih dari satu orang, kalau tidak mau diintip. Yang lain jongkok, yang lain jadi pengawas keadaan, begitu.
Suatu kali, ketika itu toilet Opa sudah ada, tapi karena lagi dipakai orang dan aku sudah tak tahan terpaksalah kembali ke sungai. Hujan lebat sekali dan semua orang tidak ada yang bisa kuajak. Tidur kekenyangan sehabis acara makan besar. Hanya ada Oma yang masih bangun. Jadilah aku memanfaatkan Oma-ku untuk jadi pengawas ke sungai.
Tidak perlu kuingatkan kebiasaanku yang selalu lama kalau urusan ke belakang. Hari hujan, tepian sungai licin dan berbatu – batu, jalan menuju sungai pun menurun dan becek. Aku jongkok dengan manisnya di tepi sungai, dekat rumput gelagah, sambil memegang payung. Air menampar – nampar betis, agak deras. Oma berdiri di tepian, tubuhnya yang kecil hampir tenggelam dibawah payung besar yang dia bawa. Angin dingin yang bertiup membawa hujan membuat pundaknya menggigil sedikit. Hampir setengah jam aku disitu, ditemani Oma-ku. Hujan lebat masih terus mengguyur, aku masih belum selesai, aku melirik posisi Oma di tepi sungai. Kakinya yang mungil dan ringkih masih ada disitu, ia tidak bergerak. Matanya memandangi pinggiran sungai dengan awas, sesekali dia masih memberi tanda kepada beberapa orang yang lewat bahwa disini sedang ada orang, tolong jangan kesini. Ah Oma. Aku terharu sekali. Hal kecil yang dia lakukan, bagiku penanda cinta yang luar biasa.
Sesudah balik ke rumah kebun, tentusaja aku dimarahi Mama karena mendayagunakan Oma-ku yang sebetulnya sedang sakit. Oma-ku saat itu memang sudah 70 tahun. Dan Oma-ku, dia hanya tersenyum kecil sambil bilang ”Ah, tidak apa – apa.”
Bagiku, ada beberapa pengalaman dalam hidup yang akan terus terbawa dan menghangatkan hati. Di sungai, hari hujan lebat, ditunggui Oma-ku tersayang adalah salah satunya.***

Ketika mengambil licence diving tahun 2002, samasekali tidak pernah terlintas di benak saya bahwa saya akan mendapatkan pengalaman diving yang sangat berharga pada tahun 2009 ini. Terimakasih Tuhan, kesempatan yang diberikan sungguh luar biasa. Truly Amazing!

Hari I pemecahan rekor selam terbanyak

Blup…blup…blup …. Ketika 2000 lebih orang sama sama mengempiskan BCD (jaket selam – buoyancy control device) dan mengayunkan fins (kaki katak untuk selam) ramai – ramai menuju dasar laut pantai Malalayang Manado, hanya suara itu yang terdengar ..kami disatukan oleh semangat untuk memecahkan rekor dunia, penyelaman massal terbanyak … hati saya berdebar – debar …walaupun sudah gladi bersih dengan lancar sehari sebelumnya (15 agustus 2009), tapi kedalaman 18m membuat saya keder juga karena di bawah laut banyak hal yang bisa terjadi. Alat – alat yang saya gunakan, belt pemberat, fins, masker, BCD + regulator dan tabung oksigen sudah kami periksa keamanannya sehingga hati pun tenang. Tangan kiri mengacung ke atas memegang katup inflator/deflator, dengan perlahan saya mengempiskan jaket, tubuh pun terbenam perlahan lahan kebawah dipeluk dinginnya air laut. Di permukaan panas, tapi dibawah suhu air turun, dari hangat semakin dalam semakin dingin, karena saya masuk agak terakhir, saya hamper tidak bisa melihat dasar laut karena penuh dengan gelembung napas ratusan orang yang naik ke atas dan memecah. Indah juga …
Perlahan saya melayang turun sambil berpegangan pada tali yang menjadi penanda lokasi kami harus berbaris di dasar laut.
Kami, 2465 orang divers pada hari itu dibagi menjadi 54 grup, saya dan teman – teman dari Newmont masuk di grup FF bersama grup Lantamal. Wah kita dianggap sudah se-ahli Lantamal, hehe. Teman – teman saya yang ikut dari Newmont hampir semuanya pernah di dept. Environmental sehingga jauh lebih berpengalaman dari saya. Kayaknya saya deh yang paling miskin pengalaman diving karena terakhir saya menyelam tahun 2004, karena kesibukan saya tidak sempat lagi diving. Untunglah satu minggu sebelum acara kami latihan intensif sehingga saya merasa disegarkan kembali dengan alat2 selam.
Melayang turun selama sekitar 3 menit ke dasar, saya tetap melakukan equalizing (pencet hidung dan keluarkan udara dari telinga) untuk beradaptasi dengan kedalaman, sambil melirik gauge saya dan melihat jarum bergerak naik dari 3m ke 5m,ke 10m, makin dalam dan dalam dan berhenti di 15m ketika mencapai dasar. Saya pun duduk bersimpuh di sebelah rekan satu tim. Perasaan saya nyaman karena semua alat berfungsi dengan baik, masker pun terang karena sudah dicuci dengan pepsodent, hehe karena cairan anti fogging habis, tak ada rotan akar pun jadi.

Visibility tidak terlalu cerah, maklum, dasar laut berpasir sehingga ketika ada ribuan orang mengacak- acak, pasir langsung agak naik. Namun dengan jelas saya melihat puluhan penyelam dengan tabungnya di depan saya yang diam membeku dengan khidmat. Ketika hendak turun tadi sudah ada 2 orang yang tidak bisa gabung karena tangki bocor dan ada juga yang pingsan. Dalam hati saya berharap dan berdoa semoga semua yang sudah berbaris rapi di dasar laut ini tidak ada lagi yang bermasalah.
Dibagi dalam 3 saf, berbanjar memanjang, kami mendapat barisan tengah di kedalaman sekitar 15 – 18m. shaf ketiga ditempati diving centers dan polri di kedalaman sekitar 18 – 25m. shaf paling depan sekitar 12-15m. tapi yang paling enak adalah shaf para tamu vip yang masih dikedalaman 5 – 10m dimana air masih agak hangat.

Saya menggigil, sebagian karena dingin, sebagian lagi karena perasaan yang bungah, turut berada di momen penting, langka dan akbar ini, duduk di dasar laut bersama ribuan orang, menunggu detik detik rekor pecah. Rekor sebelumnya di Inggris dengan sekitar 900 penyelam.
Saya cinta Indonesia, momen pemecahan rekor ini dianggap bisa mengangkat nama Indonesia di mata dunia, keheningan di dasar laut ini membuat saya terharu dan agak hanyut.
Di depan saya beberapa orang foto – foto, saya ngobrol sebentar dengan teman disamping untuk menghilangkan kejenuhan, dengan memakai bahasa isyarat, saya bilang saya merasa air agak dingin dan dia setuju tapi tenang saja katanya, sudah hampir 20 menit. Kita akan berada di dasar laut ini selama 30 menit. Dada saya tenang dan telinga dan hidung juga baik – baik saja… itu yang paling penting kalau menyelam. Di depan saya melintas seekor ikan kecil coklat bergaris putih, mugkin dia heran mengapa ada banyak mahluk besar dan ribut (suara gelembung kita nyaring sekali di keheningan dasar laut ini) yang mengganggu sarangnya .
Saya melihat kanan kiri, depan dan belakang, melihat ratusan penyelam di sekitar saya yang duduk dengan tenang, sesekali melihat jam atau melihat gauge, saya merasa terharu berada bersama mereka, tekad yang menyatukan kita semua.
Sesudah setengah jam lebih, komandan regu depan mengangkat jempol, isyarat untuk naik. Ratusan orang yang mengayunkan fins segera membuat air keruh, kami masih belum beranjak dulu selama beberapa menit agar kepala tidak kena fins orang lain atau bertabrakan dengan tabung, maklum, ribuan orang yang ascending bersamaan bisa saja bertabrakan.
Kami kemudian perlahan memberikan isyarat untuk saatnya menuju permukaan. Saya berdiri dan mengembangkan jaket, segera tubuh terangkat naik. Fins saya ayunkan perlahan, di sekitar saya ratusan orang sedang bergerak naik, sungguh pemandangan luar biasa. Di kedalaman 9 meter, kami berhenti sekitar 5 menit untuk menyesuaikan tekanan tubuh dan air laut agar tidak mengalami dekompresi, hal yang membahayakan bagi penyelam. Di belakang lokasi penyelaman ada kapal rumah sakit milik TNI AL yang sudah siap sedia dengan peralatan canggih dan puluhan perahu karet dengan personil lengkap pun berjaga dan patroli di permukaan sehingga sangat aman. Begitu maksimal upaya yang dilakukan TNI terutama AL untuk iven megah Sail Bunaken ini. Saya bangga dengan Navy kita.

Begitu sampai di permukaan, Luciana, wakil dari Guiness World of Record mengumumkan bahwa tercatat ada 2,465 penyelam yang berpartisipasi. Rekor pecah! Indonesia Jaya! Salut Sulut! Kami bersorak sorai meneriakkan merdeka berulang –ulang !!! Momen yang sungguh tidak akan pernah terlupakan …

Hari II pemecahan rekor dunia – upacara bendera di bawah laut.
____________________________________________________
Tanggal 17 Agustus 2009, kembali ribuan orang menyemut sepanjang pantai Malalayang Manado untuk menyaksikan pengibaran bendera di bawah laut. Kami yang sudah di lokasi sejak jam 8 pagi memeriksa alat2 selam, kesiapan dan keamanannya. Meskipun kemarin tenaga sudah terkuras, tapi hari ini semuanya tetap bersemangat. Saya yang gampang sekali flu ternyata hari ini tetap merasa fit. Syukurlah …
Semakin mendekati momen upacara bendera suasana semakin ramai. Kami tetap berada di pos grup FF. Orang – orang lalu lalang mengangkat peralatan selam, semuanya bersemangat dan ceria. Tidak sedikit para penonton masyarakat umum yang juga menonton kami, aneh rasanya jadi tontonan, saya sudah mengenakan pakaian selam tapi masih dilapis kaos. Panas sekali, tapi lumayan seperti berada di sauna
Menjelang pukul 09 pagi, para undangan vip tiba. Dijadwalkan upacara berlangsung sekitar pukul 10.00 wita pagi. Terdengar pengumuman untuk meregistrasi dan mempersiapkan alat. Sebelum menyelam kami diminta mengisi absen dan juga sesudah menyelam kembali akan harus mengisinya karena akan dihitung.
Wakasal menyampaikan sambutan yang berapi – api dan penuh semangat dalam dua bahasa Indonesia dan Inggris..diakhiri pekikan Merdeka!! Yang segera disambut dengan teriakan Merdeka!! pula. Seusai itu Wakasal mempimpin doa bersama.
”Gear Up!!!” pengumuman kencang terdengar. Danru kami,segera meneriakkan aba – aba untuk mempersiapkan alat. Saya mengambil boot selam dan memakainya, ambil masker dan mengalungkan di leher, ambil belt pemberat (punya saya 8 kg!) dan memasangnya di pinggang kemudian mengambil fins dan mengempitnya.
Dua orang teman mengangkat BCD yang sudah diikatkan ke tangki oksigen dan memasangnya ke punggung saya. Huuuufffttt berattt sekali ! Saya tidak mampu berdiri tegak, biasanya saya diving dari kapal jadi tinggal loncat saja. Entry lewat pantai ini baru pertamakali saya lakukan.
Saya kagum melihat para pasukan katak, marinir, lantamal, TNI, semuanya tegap memanggul beban puluhan kilo itu dan masih sempat menyanyi pula. Luar biasa….padahal punggung saya rasanya mau patah …
Tertatih – tatih kami berjalan menuruni tangga ke pinggiran pantai. Pantainya berbatu-batu licin dan agak menjorok sehingga kami harus berjalan agak jauh, tidak sedikit yang terpeleset dan segera menjadi obyek foto dan video.
Begitu sampai di air dan mengapung beban segera menjadi ringan dan badan terasa segar habis terjemur berjam – jam di pinggiran jalan tadi.
Saya melihat teman – teman juga sudah berada di air, segera kami berenang turtle back bersama ratusan yang lain dalam kelompok – kelompok kecil menuju lokasi penyelaman yang sudah ditandai dan dipagari kapal TNI AL.
Memeluk pelampung yang menjadi penanda grup FF, grup kami, saya terayun2 ombak sebentar menyaksikan kelompok yang lain yang juga sedang mengatur diri. Air jernih dan biru, saya pasang masker dan mengintip ke dalam, samar – samar kelihatan dasar laut yang sudah diberi penanda tali kuning yang membentuk kotak – kotak tempat para penyelam nanti akan menempatkan diri untuk mengikuti jalannya upacara. Hati saya berdebar, gembira dan bangga dan berdoa semoga segala sesuatu berjalan lancar dan aman. Satu orang di grup EE terpaksa diangkut ke perahu karet tim SAR, mungkin karena sudah kepanasan dia pingsan. Untuk mengisi waktu menunggu kelompok 3 berenang ke arah lokasi kami, tanpa dikomando beberapa orang mulai menyanyikan lagu – lagu perjuangan yang segera diikuti koor lautan penyelam. Luar biasa dan indah, saya terharu sekali, 2 bulir air mata menggenang…kami cinta Indonesia, kalian boleh hancurkan dengan korupsi, teroris, bom, tapi Indonesia akan tetap tegak berdiri sampai kapanpun …

Bendera hijau diacungkan berarti belum semua penyelam berada di posisi. Beberapa menit kemudian bendera kuning di perahu karet itu menggantikan hijau, kami harus siap – siap. Saya pasang masker, mengecek regulator dan jaket saya, semuanya ok. Bendera merah teracung, dari panggung utama terdengar teriakan ”Are you readyyyy ????” kami balas dengan berteriak membangkitkan semangat ”Yesssss!!!!””
Danru kami segera meneriakkan aba – aba untuk menyelam. Saya kempiskan jaket, memegang tali dan meluncur turun…. turun… dan turun…. sampai lutut saya menjejak pasir laut di kedalaman 16m. Saya mendongak, masih puluhan orang sedang melayang kebawah. Ada yang kepala duluan, ada yang kaki duluan, tabung berbagai warna, hijau perak,kuning, merah melintas dimana – mana ketika masing – masing mencari grupnya dan mengatur diri dalam barisan.
Saya melakukan equalizing, melakukan mask clearing dan memeriksa gauge saya, semuanya ok. Napas saya normal dan dada saya nyaman, ok, saya pun duduk bersimpuh, lutut menjejak dasar pandangan ke depan dan tangan memeluk dada agar stabil. Air tidak terlalu dingin mungkin karena sudah agak siang, matahari pun masih mencapai dasar. Saya melihat lagi ikan coklat yang kemarin dan beberapa bintang laut di pasir. Lautan tabung di depan saya seperti tiang pancang tegak di dasar laut. Kali ini suasana lebih serius karena kita akan mengikuti upacara dan dilarang foto – foto atau jalan – jalan sebelum upacara selesai.
Upacara pun dimulai. Susunannya adalah sebagai berikut: komandan tiap regu melapor kepada inspektur upacara. Pengibaran bendera dimulai, lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Selesai itu Irup akan membacakan teks proklamasi dibawah air (Irup memakai tabung selam dan bukan masker supaya bisa bicara di dalam air dan suaranya akan kedengaran sampai di panggung kehormatan). Saya membayangkan Ayah ibu, dan keluarga saya yang sedang menonton di rumah, saya ingin mereka bangga, walau saya hanya satu diantara sekian ribu orang, tapi saya ingin mereka tahu saya ada disana.
Selesai teks proklamasi kemudian mengheningkan cipta dengan diiringi lagu. Kami tentu tidak bisa melihat seluruh prosesinya karena kami di bagian belakang. Tapi lagu Indonesia Raya bisa didengar di dalam air karena digunakan speaker di bawah laut. Sayup – sayup saya mendengar lagu Indonesia Raya, saya menahan napas sejenak agar lebih kedengaran, merinding mendengarnya di kedalaman ini, terharu sekali….
Kami memberi hormat pada sang Saka Merah Putih yang sedang dinaikkan, warna merah menjadi coklat tua di dalam air. Suasana begitu khidmat dan hening… hanya suara gelembung dan lagu Indonesia Raya yang terdengar …
Begitu seluruh prosesi selesai dan para Danru mengangkat jempol yang tandanya sudah bisa naik ke permukaan, suasana langsung berubah menjadi eforia. Kamera2 segera dipasang, spanduk2 segera dibentangkan. Semuanya larut dalam sukacita karena telah berhasil … kamipun tak ketinggalan foto – foto …. saking asyiknya sampai danru harus mengingatkan semuanya agar segera naik, karena mengingat acara hari ini lebih panjang dan lama sehingga isi tabung juga tinggal setengah. Saya melirik gauge saya, kedalaman 14m, isi tabung tinggal 100 bar, ah masih banyak , batin saya. Kami masih saling berjabatan tangan dengan penyelam – penyelam lain, foto – foto dan tertawa. Beberapa membuka masker dan regulatornya supaya wajah lebih kelihatan di dalam foto….kamipun naik perlahan, masih dibalut rasa gembira dengan suksesnya momen tadi. Berhenti sebentar di 9 m dan kemudian meluncur ke atas. Sampai di permukaan suasana sangat ramai, orang – orang berteriak melampiaskan kegembiran, berpelukan, berjabatan tangan, menyanyi – nyanyi, sungguh suasana yang luar biasa. Para TNI AL yang berada di perahu karet mendekat menjabat tangan para penyelam, mengucapkan terimakasih.
Perlahan kami berenang kembali menuju pantai untuk mendengarkan pengumuman Rekor Dunia dari pihak Guiness world of record. Wakil GWR mengumumkan, tercatat 2486 penyelam yang telah berpartisipasi hari ini, malah lebih banyak dari kemarin. Fantastik!
Sungguh, pengalaman sangat berharga bagi saya untuk bisa ikut disini di iven ini. Diperkirakan rekor ini sulit untuk dipecahkan sampai 10 tahun ke depan. Namun Freddy Numberi, Menteri Kelautan mengumumkan mungkin tahun depan akan dicoba mencapai 3,000 penyelam.

Dirgahayu Indonesiaku, kami cinta padamu!

Someone …


Dear …

I write this because I could not say it directly to you… remember when you asked me to read your blog and fiding my name there ?
I have read it and I cry …it’s so beautiful especially your pray … I want to thank you for all the feelings, the love, the words and everything that you’ve dedicated in writing that article for me …

I am not as good as you depicted, nor that kind, I have flaws… but I am so relieved and thanking God, that in this planet earth, someone is falling for me soo deep …
Did I ever mentioned to you that …some years ago I have written you a letter, about how I adores you, about how is my feelings for you…but I could never gave those letter to you, am so afraid and ashamed, never got the courage to give it to you, to have you read it.
See? I am also a coward. We could never change the history, but I just want to tell you that the feelings will remained here. You will always have a place in my heart that no one could ever replaced.
Thank you so much…
I love you too …

~p~
15jul09

besok hari H nya … nasib masyarakat, nasib rakyat, nasib bangsa akan ditentukan dari centangan jutaan tangan di atas kertas selebar koran, memilih wakil yang dia inginkan untuk nanti mewakilinya duduk di ruangan ber AC, mendapatkan gaji dan tunjangan jutaan, proyek sana sini, kehormatan 5 tahun, mobil dinas, tunjangan pakaian, makan minum jutaan rupiah.

saya berharap, tidak ada keributan kalau ada caleg yang merasa ada kecurangan sehingga dia tidak terpilih.

saya berharap, ruangan ruangan VIP di RS jiwa yang sudah disiapkan dengan semangat oleh pemerintah yang sudah cepat tanggap akan terus kosong tidak berisi.

saya berharap, perbedaan pilihan tidak akan membuat permusuhan muncul.

saya harap, apa yang saya pilih besok, akan berarti dan tidak sia – sia …

saya berharap, bangsa ini belajar dari pengalaman, mengasihi kaum yang terpinggirkan, menghormati generasi tua dan tidak terlalu percaya janji yang diobral lewat iklan mahal.

saya berharap, sekecil apapun, nasib bangsa kedepan bisa berubah lebih baik…

Amin.
ontario-general-election

Kota Caleg

Beberapa minggu lalu, aku ke Tomohon. Trip biasa, jalan jalan tak tentu arah dengan siblings-ku. Dikenal dengan kota Bunga, Tomohon sudah dua kali menyelenggarakan iven Tournament of Flowers yang, lumayan dianggap sukses. Pasar Tomohon juga sudah terkenal kemana – mana dengan berbagai jualannya yang tak biasa, kucing, anjing, kelelawar, ular hingga monyet sudah jadi pemandangan lumrah disitu. Di Tomohon juga ada Kebun Raya yang walaupun belum dibuka secara resmi sampai sekarang, sudah jadi lokasi tujuan retreat dan berbagai acara. Taman Korompis yang indah dan penuh bunga sudah sering jadi lokasi pemotretan pre-wed.

Tujuan kita sebetulnya untuk ke puncak Mahawu. My bro & sis, they mocked me for never get to any top of any mountain. Jadi, disanalah kami hendak menuju Mahawu, mewujudkan mimpi-ku untuk menaklukkan puncak Mahawu. Bukan mimpi sebetulnya, karena puncak Mahawu ternyata bisa dicapai dengan mobil, dan sesudah mendaki sekitar 10 menit, voila, sampailah kita di puncaknya dengan pemandangan lereng landai dan kawah seperti tempurung terbuka, mengepulkan asap berbau belerang. Mendaki ? tidak tepat begitu, karena jalannya memang menanjak, tapi terimakasih atas kunjungan Mari Elka Pangestu beberapa waktu lalu, jalan inipun sudah dipahat seperti tangga dan ada susuran pegangan dari kayu di sepanjang jalan ke puncak. Hebat….tidak cuma mie, bubur dan gelar sarjana saja yang instan, naik gunung pun bisa instan. Bagi adik-ku yang sudah mendaki gunung2 di Jawa dan kakak-ku yang sudah pernah tiba di puncak Lokon, ini seperti main-main. Tapi buat aku ? mendaki 10 menit ini sudah bikin napas tersengal 10 menit.

Anyway, yang cukup membekas di ingatan adalah, sepanjang perjalanan ke Tomohon, kiri kanan penuh dengan Baliho dan poster Caleg berwarna – warni dengan motto bervariasi dan gaya yang macam – macam pula. Bahkan, sepanjang jalan utama Tomohon, yang di kiri kanannya penuh penjual bunga, pun tidak luput dipancangi dan disesaki beragam poster beragam ukuran dari puluhan (atau ratusan?) caleg. Hitung saja, jika satu caleg memasang minimal 5 papan poster (ya, mana mungkin 1 saja ? bisa di-cap kurang modal dong ! ), ada berapa poster di seluruh kota bunga nan cantik ini ? Itupun masih bersaing dengan papan reklame, poster pertunjukan dan pengumuman macam – macam.

Aku bahkan melihat 3 papan poster adik kelas kuliah ku, hebat ! Rasanya Tomohon bisa dijuluki kota Caleg saja daripada kota bunga 🙂 Tapi, tentu tidak adil buat kota kecil cantik ini mendapat julukan sedemikian. Indahnya tata kota bisa menarik turis yang datang, tapi apakah kita akan bisa menarik turis datang dengan tinju terkepal menyatakan tekad, senyum airbrushed dan seruan, Pilihlah saya! ?

Bagiku, membingungkan melihat fenomena caleg telah merasuk ke setiap sendi kehidupan. Tetangga depan rumah-ku, a very dedicated yet very modest teacher, tiba – tiba saja memproklamirkan diri sebagai caleg partai ‘Anu’, membagikan stiker, kartu,  kaos dan fasih berbicara mengenai penjegalan dan persaingan politik di daerah pemilihannya. Tayangan di TV, poster di jalan, iklan di radio dan koran, menyadarkan kita, ribuan orang mendamba dan mendamba luarbiasa untuk duduk di kursi itu.

Di Sulut, kursi yang tersedia ada sekitar 300-an, sedangkan Caleg yang terdaftar ada sekitar 6000-an, you do the math! Berapa orang yang akan kecewa karena tidak terpilih ? Berapa keluarga yang akan jatuh ekonomi-nya ketika pencari nafkah-nya harus menutupi hutang – hutang yang terlanjur dipinjam pada masa kampanye ? This is insane!

Ada berapa papan poster Caleg di jalan – jalan kota-mu ?

~P

 

icarus

mentari adalah batas abadi
seseorang mengukur kemampuan diri
seperti icarus yang terbakar ketika melewati kulminasi
kita akan memilih
terbakar
atau kembali …
137331615_a2900605f2