Jika ada yang bertanya pada kita, kapan dan dimana tempat makan paling enak ? Maka dengan sigap cepat dan tepat kita akan segera menjawabnya, tentusaja sambil membayangkan kembali makanan yang pernah dirasakan, suasana restoran atau rumah, merasakan kembali sensasi enaknya makanan yang pernah singgah di mulut, mungkin juga dengan sedikit ‘drooling’, hehehe….
Tapi jika ada yang bertanya, dimanakah tempat ’pup’ paling enak ? hmm, kita akan mengeryit dulu, sebelum menjawab,”bukan urusan lo kalee!” … agak mengherankan atau tidak, urusan ’ke belakang’ kerap tidak kita persoalkan, bahkan sebisa mungkin disembunyikan. Padahal, coba diingat – ingat dan sadari, urusan ini sama halnya dengan tidur dan makan, jika tidak dilakukan secara lancar dan teratur, matilah manusia. Tapi wajar jika kita tidak hendak mengingatnya, bukankah manusia memang sukanya mengingat hal – hal yang baik dan menyenangkan saja? Itu mekanisme otak kita bukan ? mekanisme untuk melupakan hal – hal buruk -dan percayaaa, ’pup’ atau orang sedang ’pup’, bukan kenangan yang ingin disimpan terlalu lama di sel – sel kelabu otak kita- akan menjaga kita tetap waras. (sel – sel kelabu, meminjam istilah hercule poirot).
Anyway, sebetulnya jika ada yang bertanya begitu padaku, maka dengan senang hati atau ‘senang perut’ aku akan mengingat dan menjawabnya ^_^
Selama hidup, entah sudah berapa ton kita melakukan pembuangan hajat yang satu itu (ih nulisnya pun aku agak2 ’merinding’). Waktu yang dihabiskan untuk buang hajat yang ini pun harus khusus disediakan, kadang lebih lama dari waktu makan (merindingnya lanjuttt)…
Ada satu kebiasaanku yaitu ’suka’ berlama – lama di dalam wc. Entah mengapa urusan ke belakang ini selalu agak sulit kulakukan (yakin, sekarang yang sedang baca yang ’merinding’). Supaya merindingnya gak lama – lama, tulisannya akan aku persingkat saja deh. Sekian ribu kali ke’belakang’ dalam hidup ini, ada beberapa momen yang aku ingat.
Si putri kecil dan babi – babinya
Dulu, waktu masih kecil di sangir talaud, saat aku masih tk, ada kebiasaan kita yang ’aneh’ untuk urusan kebelakang. Di belakang rumahku ada pagar bambu keliling yang luas. Di belakang pagar bambu itu ada tanah kosong luas yang tidak pernah kujelajahi, bagiku itu dunia lain yang entah apa. Selain karena aku termasuk anak kecil penakut, di situ banyak babi berkeliaran yang mencari makan. Aku ngeri dengan suara babi yang memang nggak enak didengar itu. Nah, ditengah pagar bambu tinggi itu, ada lubang kecil yang cukup untuk diduduki atau jadi tongkrongan. Lubang kecil itulah yang jadi tempat nongkrong aku dan kakak perempuanku kalau lagi ’itu’. Di rumah memang ada toilet yang dipakai orang – orang dewasa, tapi entah kenapa, kami berdua lebih suka nongkrong disitu, di lubang itu. Jangan tanya kenapa sekarang, pikiran anak kecil ’jorok’ waktu itu beda sama diriku yang manis sekarang ini ^_^
Bayangkan saja, nongkrong duduk lama – lama diatas pagar bambu itu dan dibawahnya belasan ekor babi menguik – nguik kesenangan menunggu ’ itu ’ jatuh. Gawd, so not kewl! … Eeeeewww……
Tapi, sebagai anak kecil keren (iya dong!) dengan imajinasi luarbiasa (so pasti!, gak keberatan kan lo? hehe ), aku selalu membayangkan akulah sang putri raja yang sedang membagikan emas buat rakyatnya, ya para babi itu. Duh kasihan banget sih nasib babi – babi hitam itu. Pemandangan itu, masih terbayang jelas sampai sekarang sesudah aku dewasa. Sekarang, lo masih juga mau nanya kenapa aku gak pernah bisa makan daging babi ???
Bokong yang hangat
Jangan mikir ngeres dulu ya. Sesudah ‘berkenalan’ dengan wc duduk, aku ‘jatuhcinta’. (eewww!) Sebagai anggota POYSBDWC (perkumpulan orang yang suka berlama-lama di wc), kalo jongkok kelamaan, kakiku suka keram dan gangguan – gangguan lainnya. Dengan wc duduk, voila, kita bisa sambil ngapain aja di wc – tentusaja kecuali makan (eeewwww!). Baca koran ? ok! Ngisi tts ? ok juga! Fesbukan? Kenapa nggak !? (jangan pura2 ah, lo juga kan? ^_^ main yoyo ? iseng amat! Main kasti ? lebay!
Ok. Tapi, wc duduk membuat hidup lebih menyenangkan, siapa sih penemunya ? Kaki keram, pinggang sakit, lutut lemah gak ada lagi! (ini memang kelamaan jongkok atau udah tanda – tanda usia ya?! ) Gak usah aku terangin deh, lo bayangin aja dalam tempo setengah jam, aku bisa ngapain (gila lo! Kayak kurang kerjaan aja gue ngebayangin lo lagi ’itu’! Nah, nyolot kan? Hahahaha!)
Tapi, pengalaman terbaik dengan wc duduk bukan itu, bukan sambil menghayal dotcom. Bulan kemarin aku dapat kesempatan menginap di hotel bintang lima diamond di Jakarta, di kamar deluxe, karena kamar superiornya lagi penuh. Ternyata kamar itu baru saja direhab dan yang paling membahagiakan di kamar itu adalah automated wc-nya. Dengan automated sensor, begitu kita berdiri dekat wc, tutupnya akan terbuka. Begitu duduk, otomatis dudukannya akan menghangat, sungguh menyenangkan kalau pagi hari baru bangun dengan ac yang dingin semalaman. Bebersih ? no problem, mau depan atau belakang? Soft atau pulsating ? tinggal tekan tombol, air keluar dengan aliran keras, lembut atau berputar atau denagan tekanan, suka – suka kita. Sudah selesai? Hidupkan anginnya untuk mengeringkan bagian – bagian yang perlu dikeringkan, ehm.
Dudukannya yang lebar juga menjamin kita bisa duduk nyaman dengan hangat selama yang kita mau. Acara ’kebelakang’ di pagi hari jadi menyenangkan, dengan bokong yang hangat !
Oma tersayang, Sungai dan Hujan
Tapi, dari semua pengalaman kebelakang dimana saja, tidak akan mengalahkan pengalamanku ’itu’ di kali. Bayangkan saja, jongkok di kali dengan air bersih yang mengalir deras, serangga air melompat – lompat disekitarmu, rerimbunan hijau di kiri kanan, udara segar, awan putih berarak di atas, di langit luas biru. Amboii!
Sumpah, jauh lebih menyenangkan dari toilet modern manapun di dunia ini. Kecuali mungkin kalau sungainya bisa ngomong, pasti akan keberatan kita mencemari airnya yang bening. Ketika masih kecil di kota kecil yang bersih dan rapi, tahuna, aku sering ikut orang – orang mencuci baju ke sungai untuk berenang dan kemudian ’itu’ disungai. Namun seiring aku besar, tentu sudah tidak diperbolehkan lagi, kecuali kalo mau kesambet, disambet jin atau orang, ihhh amit – amit.
Ketika aku remaja, Opa dan Oma ku pindah dari daerah perkotaan ke kebun yang agak jauh. Mereka pindah karena waktu itu Opa divonis sakit jantung sama dokter, dan mungkin obsesi Opa adalah meninggalkan kota untuk menyepi dan kembali ke alam. Entahlah. Yang jelas, kami anak cucu senang –senang saja, acara reuni keluarga dan kumpul Lebaran pun berubah tempat ke kebun Opa yang luas, sejuk, dekat sungai, namun masih terhitung dekat dengan jalan raya. Di kebunnya ini Opa menanam pohon coklat, kelapa, berbagai jenis pisang, kacang hijau, durian, sayur – sayuran, buah – buahan dan banyak lagi. Opa-ku tercinta juga memelihara ayam, sapi, kambing dan punya kolam ikan. Hmm, kenapa jadi seperti tugas mengarang esde dulu ya ? (Berlibur ke rumah Kakek, jrengggg!!!)
Anyways, berhubung masih baru, di kebun Opa tidak ada fasilitas toilet. Kamar mandi tentusaja ada, tapi wc tidak ada. Ada juga, tapi masih darurat, dan aku lebih baik disuruh gali tanah daripada pengalaman putri dan babi terulang lagi…Opa-ku tidak pelihara babi sih, ini ’penekanan yang lebay’ aja. Di dekat kebun Opa ada sungai besar yang mengalir deras dan jernih. Kesitulah kami beramai – ramai berangkat dengan ceria dan gembira membawa satu batang sabun untuk menunaikan hajat mulia. Harus lebih dari satu orang, kalau tidak mau diintip. Yang lain jongkok, yang lain jadi pengawas keadaan, begitu.
Suatu kali, ketika itu toilet Opa sudah ada, tapi karena lagi dipakai orang dan aku sudah tak tahan terpaksalah kembali ke sungai. Hujan lebat sekali dan semua orang tidak ada yang bisa kuajak. Tidur kekenyangan sehabis acara makan besar. Hanya ada Oma yang masih bangun. Jadilah aku memanfaatkan Oma-ku untuk jadi pengawas ke sungai.
Tidak perlu kuingatkan kebiasaanku yang selalu lama kalau urusan ke belakang. Hari hujan, tepian sungai licin dan berbatu – batu, jalan menuju sungai pun menurun dan becek. Aku jongkok dengan manisnya di tepi sungai, dekat rumput gelagah, sambil memegang payung. Air menampar – nampar betis, agak deras. Oma berdiri di tepian, tubuhnya yang kecil hampir tenggelam dibawah payung besar yang dia bawa. Angin dingin yang bertiup membawa hujan membuat pundaknya menggigil sedikit. Hampir setengah jam aku disitu, ditemani Oma-ku. Hujan lebat masih terus mengguyur, aku masih belum selesai, aku melirik posisi Oma di tepi sungai. Kakinya yang mungil dan ringkih masih ada disitu, ia tidak bergerak. Matanya memandangi pinggiran sungai dengan awas, sesekali dia masih memberi tanda kepada beberapa orang yang lewat bahwa disini sedang ada orang, tolong jangan kesini. Ah Oma. Aku terharu sekali. Hal kecil yang dia lakukan, bagiku penanda cinta yang luar biasa.
Sesudah balik ke rumah kebun, tentusaja aku dimarahi Mama karena mendayagunakan Oma-ku yang sebetulnya sedang sakit. Oma-ku saat itu memang sudah 70 tahun. Dan Oma-ku, dia hanya tersenyum kecil sambil bilang ”Ah, tidak apa – apa.”
Bagiku, ada beberapa pengalaman dalam hidup yang akan terus terbawa dan menghangatkan hati. Di sungai, hari hujan lebat, ditunggui Oma-ku tersayang adalah salah satunya.***
saya juga anggota POYSBDWC. makanya betis saya varises.. hehehe
huahahaha .. mas ochan yg baik, apa kabar ???? … baiklah kita sesama anggota keep in touch ya…*berdoa semoga tidak varises hihihi*
dan selamat atas pernikahannya, wish you a happy marriage mas!